Jakarta - 6 Agustus 2025, Institut STIAMI sukses menggelar kegiatan PKM Internasional yang diikuti oleh 20 dosen dan 20 mahasiswa, termasuk mahasiswa internasional dari 3 negara yaitu Cecile Taelman (Belgium) , Sarir Ahmad (Pakistan), Amali Nilaksha dan Kaveesha Dissanayake (Sri Lanka) dan Mayssa Barhoumi dan Chatma Barhoumi (Tunisia). Kegiatan yang mengusung tema : “ Promosi Pariwisata yang Berkelanjutan Melalui Diplomasi Budaya Bersama Mahasiswa Internasional dalam Membangun Citra Positif Indonesia,” diselenggarakan oleh STIAMI International Office dan DRPM STIAMI bekerjasama dengan AIESEC President University.
Membatik bukan sekadar sebuah tradisi, tetapi juga sebuah seni yang mengisahkan kekayaan budaya Indonesia melalui setiap goresan dan warna. Dari teknik yang rumit hingga motif yang beragam, proses membatik merupakan warisan nenek moyang yang telah ada selama ratusan tahun. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat Jakarta yang belum tahu bahwa di daerah Jakarta Selatan tepatnya di Kelurahan Pejaten Barat ada sebuah pusat pelatihan membatik, yang dikenal dengan nama Batik Pejabat yang merupakan singkatan dari Batik Pejaten Barat, yang kini tengah didorong oleh pemerintah setempat untuk menjadi produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi warga sekitar. “ Pemerintah kota tidak hanya memberikan dukungan dalam hal legalitas, tetapi juga mendorong inovasi motif dan publikasi melalui media sosial agar batik Pejabat semakin dikenal luas,” ujar Asep Ahmad Umar, Lurah Pejaten Barat.
Wakil Rektor I Institut STIAMI, Dr. Euis Komalawati, S.Sos, M.Si, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi jangka panjang Institut STIAMI dengan AIESEC President University yang sudah berjalan selama sepuluh tahun. “Tahun ini kita usung tema tentang Diplomasi Budaya melalui mahasiswa internasional yang bertujuan untuk membangun citra positif Indonesia di mata dunia. Hal ini memperkuat People to People Diplomacy yang berbasis pada interaksi antarindividu, mempererat hubungan internasional melalui pendekatan yang lebih personal.”
“ Diplomasi publik, khususnya melalui pendidikan, merupakan strategi diplomasi yang bertujuan untuk membangun hubungan antarnegara yang lebih erat. Pendidikan sebagai instrumen diplomasi memungkinkan terjalinnya hubungan jangka panjang berbasis pemahaman dan penghormatan terhadap perbedaan budaya,” tambah Dr. Dwi Agustina, S.IP, M.P.A, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Institut STIAMI.
“ Program ini tidak hanya memberikan pengalaman akademik kepada para peserta, tetapi juga mempertemukan mereka dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Dengan demikian, para peserta diharapkan dapat menjadi Duta Budaya Indonesia ketika mereka kembali ke negara asal masing-masing,” tambah Teguh Santoso. S.AB. M.A, Ketua Program Studi Administrasi Bisnis, Institut STIAMI.
Salah satu upaya yang digunakan oleh suatu negara untuk menciptakan citra positif di mata dunia adalah melalui nation branding. Program PKM yang melibatkan mahasiswa internasional menjadi salah satu instrumen strategis dalam membangun citra Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya, ramah, serta terbuka terhadap komunitas global. Melalui pengalaman yang didapat oleh mahasiswa internasional, Indonesia mendapatkan eksposur yang lebih luas di kancah internasional, “ imbuh Baby Poernomo, SS, MA, Kepala STIAMI International Office dan Language Center. (BP/IP-SLC/V/2026).
Kontak Media:
Public Relations Institut STIAMI
Email: [email protected]
Telepon : 0851-2104-2427