Kehadiran mahasiswa asing dipandang sebagai komponen penting dalam meningkatkan pembelajaran yang berwawasan global, multikultur dan inklusif. Mahasiswa asing tidak hanya memperkaya keberagaman budaya di lingkungan kampus, tetapi juga menjadi sarana pertukaran gagasan dan pengalaman akademik yang diproyeksikan mampu meningkatkan mutu perkuliahan, penel;itian, dan perluasan jejaring internasional. Kehadiran mereka memberikan warna baru dalam diskusi kelas, kerja kelompok, serta kegiatan akademik maupun nonakademik lainnya.
Salah satu program internasionalisasi yang diterapkan oleh Institut STIAMI adalah menerima tiga mahasiswa asing dari negara Tajikistan, yaitu : Hojizoda Oliha Vafo, Madalizoda Hakim Odina, dan Saidzoda Afrosiyob Shodi. Ketiganya mengambil Program Studi Administrasi Bisnis, dibawah Fakultas Ilmu Administrasi, Institut STIAMI. Keberadaan mereka di kampus Institut STIAMI memberikan warna dan nuansa internasional tersendiri bagi civitas academica Institut STIAMI.
Tajikistan adalah sebuah negara yang pernah tergabung dalam Uni Sovyet, dan terletak di pusat Asia Tengah. Negara ini berbatasan dengan Kyrgyzstan di utara, China di timur, Afghanistan di selatan, dan Uzbekistan di barat dan utara timur. Dushanbe adalah ibukotanya.
“ Sebelum menerima mahasiswa asing untuk kuliah di Institut STIAMI, kami sudah melakukan serangkaian persiapan, yang bukan bersifat administratif saja namun juga teknis dan strategis, mulai dari program belajar Bahasa dan Budaya Indonesia, keikutsertaan mahasiswa asing dalam kegiatan-kegiatan di kampus, terutama yang terkait dengan pengenalan budaya, serta kunjungan ke industri dan tempat-tempat wisata. Semua ini kami lakukan dengan tujuan utama agar mahasiswa internasional dapat lebih cepat beradaptasi di lingkungan yang baru ,” jelas Dr. Euis Komalawati, S.Sos, M.Si, Wakil Rektor I, Institut STIAMI.
“ Khusus untuk program Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Institut STIAMI menyelenggarakan Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Pembelajaran BIPA melingkupi keterampilan menyimak, menulis, membaca, dan mendengarkan. Kemendiktisaintek RI menyebutkan bahwa BIPA punya tujuan untuk menyebarluaskan bahasa Indonesia, menyampaikan berbagai informasi tentang Indonesia, seperti memperkenalkan masyarakat, adat, dan budaya Indonesia. Selain itu, BIPA berperan penting dalam mewujudkan tujuan menjadikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Internasional di tahun 2045, ” ujar Dwi Agustina, S.IP, M.P.A, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Institut STIAMI.
Sebelum mahasiswa asing berangkat ke Indonesia dan memulai perkuliahannya di Institut STIAMI, serangkaian pembekalan diberikan secara online agar mereka lebih mengenal Indonesia. “ Materi yang disampaikan bukan hanya seputar pembelajaran Bahasa Indonesia saja, namun juga masalah nilai dan norma yang ada di masyarakat Indonesia. Masalah Do’s dan Don’ts yang sangat penting untuk dipahami agar mahasiswa tidak mengalami culture shock yang berkepanjangan dan dapat belajar menghargai budaya setempat dengan baik,” tambah Anisa Arizona, S.AB. M.A, Sekretaris Program Studi Administrasi Bisnis, yang berperan aktif dalam menyiapkan kebutuhan-kebutuhan mahasiswa asing selama kuliah di Institut STIAMI.
Ketika kita akan menerima mahasiswa asing, yang harus disiapkan bukan hanya kesiapan mahasiswa asingnya saja, namun juga seluruh civitas academicanya. Sosialisasi harus dilakukan jauh hari sebelumnya dan tidak hanya bersifat pemberian informasi semata, namun juga informasi yang akan membuat mereka menjadi individu yang ‘open
Hojizoda Oliha Vafo
Kehidupan masyarakat Tajik sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan penghormatan kepada orang yang lebih tua. Rumah dan Chaykhana atau rumah teh menjadi ruang sosial utama untuk berkumpul, berbincang, dan berbagi cerita Saya merasakan adanya kesamaan budaya antara Tajikistan dan Indonesia, sehingga saya merasa ‘feel at home’ . Apalagi suasana di kampus yang nyaman dan menyenangkan, pertemanan dengan mahasiswa lokal dan hubungan baik dengan para dosen, membuat saya antusias untuk terus menyelesaikan studi di Institut STIAMI.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Madalizoda Hakim Odina
Awalnya saya mengira Institut STIAMI adalah kampus denominational yang berlandaskan keislaman. Namun ternyata saya keliru, Institut STIAMI adalah kampus yang sangat multikultur, Menerima mahasiswa dari berbagai latarbelakang. Para dosen di sini juga sangat open minded, demikian juga dengan mahasiswa-mahasiswanya. Sistem perkuliahan di sini juga sangat menyenangkan. Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas saja, tetapi juga diperkaya dengan kunjungan ke berbagai industri dan institusi. Kuliah di Institut STIAMI bukan hanya dapat ilmu tapi kaya pengalaman.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saidzoda Afrosiyob Shodi
Kuliah di Institut STIAMI bukan hanya bel;ajar teori, tapi ternyata banyak prakteknya. Sebagai kampus dinamis Institut STIAMI menerapkan pembelajaran kolaboratif antara dosen dan mahasiswa. Institut STIAMI juga bekerjasama dengan perusahaan teknologi global baik di dalam maupun luar negeri untuk menyediakan peluang magang, proyek bersama, dan bahkan peluang kerja setelah lulus. Kolaborasi ini memberi mahasiswa kesempatan untuk belajar langsung dari para ahli di berbagai bidang dan menambah pengalaman mereka dalam menghadapi dunia kerja yang serba digital.