Jakarta, Mei 2026.
Sembilan mahasiswa Institut STIAMI sukses mengikuti konferensi pemuda bertaraf internasional “Asia Europe Conference and Exchange Program 2026”, yang diselenggarakan dari tanggal 4 hingga 12 Mei 2026, secara hybrid. Mereka adalah Andika Saputra (Administrasi Bisnis), Andien Arselya Anjani (Manajemen Komunikasi), Alexander Eric Ligaleta (Manajemen Logistik), Chairunnisa Yolanda Siregar (Administrasi Publik), Jehan Putri Rachma Dini (D4 Akuntansi Bisnis), Nadia Maharani (Administrasi Bisnis), Nafisa Mayang Rakasiwi (Hospitaliti dan Pariwisata), Qiennaya Imviline Nazhar (Administrasi Publik), Shifa Kurniasih (D3 Perpajakan).
Dalam event yang diikuti oleh perwakilan dari 14 negara ini (Indonesia, Afghanistan, Bangladesh, Ghana, India, Kazakhstan, Malaysia, Pakistan, Philippines, Nigeria, Sudan, Timor Leste, Vietnam, dan Yemen) ke sembilan mahasiswa Institut STIAMI ini tampil gemilang di setiap sesinya, mulai dari Focus Group Discussion, Group Project hingga Individual dan Group Presentation. Asia Europe Conference and Exchange Program 2026 (AECEP) adalah konferensi pemuda internasional yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi pemuda dalam kepemimpinan, dan komunikasi, yang sekaligus mendorong kolaborasi lintas budaya antara Asia dan Eropa. Pada tahun ini, tema yang diusung adalah Global Leadership and Innovation in Pursuing the Youth International Collaboration and Networking. Tidak banyak mahasiswa yang mendapat kesempatan ini, mengingat mereka dituntut untuk tidak hanya mahir berbicara dalam Bahasa Inggris dan Public Speaking saja, namun juga memiliki critical dan creative thinking yang mumpuni dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi sehingga dapat terlibat aktif dalam diskusi kelompok yang membahas ide ide kreatif dan inovatif, yang mendorong direalisasikannya kolaborasi internasional, dimana generasi muda berinteraksi dengan rekan-rekan dari latar belakang budaya dan akademis yang beragam.
Di era globalisasi, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan kepemimpinan yang tidak hanya lokal, tetapi juga global. “ Kepemimpinan global menekankan kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi, berkolaborasi dan mengambil keputusan di lingkungan multikultur dan lintas negara. Pendidikan tinggi menjadi sarana penting untuk membentuk kompetensi ini. Perguruan tinggi di Indonesia memfasilitasi pengembangan kepemimpinan global melalui program internasional, pertukaran mahasiswa, dan proyek kolaborasi lintas negara. Mahasiswa belajar menghadapi dinamika budaya yang berbeda, menyelesaikan masalah secara kreatif, dan memimpin tim dengan perspektif global,” jelas Prof. Dr. Sylviana Murni, S.H, M.Si, Rektor Institut STIAMI.
“ Mahasiswa sebagai agen perubahan perlu dilatih untuk berpikir kritis agar mampu memahami dan menggabungkan konsep secara mendalam dan pada akhirnya dapat memberikan solusi inovatif yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik. Selain itu, dunia kerja saat ini menuntut mahasiswa memiliki kreativitas, keaktifan dan kemampuan beradaptasi yang tinggi. Mahasiswa modern dituntut untuk mau mencoba hal baru, serta aktif membangun pengalaman melalui berbagai kegiatan kampus maupun program pribadi. Itulah yang selalu kami tekankan kepada mahasiswa kami,” imbuh Dr. Euis Komalawati, S.Sos, M.Si, Wakil Rektor 1 Institut STIAMI.
Dalam dinamika global saat ini, konferensi internasional memainkan peran yang sangat penting dalam memfasilitasi pertukaran pengetahuan, kolaborasi lintas batas, serta pemikiran inovatif. Ini merupakan ajang pertemuan yang dihadiri oleh peserta dari berbagai negara, menghadirkan topik-topik terkini, dan gagasan-gagasan inovatif. Institut STIAMI tidak pernah absen mengirimkan wakilnya dalam event-event internasional, seperti disampaikan oleh Dr. Hartono, S.E, M.M,” Kami selalu mendorong mahasiswa untuk ambil bagian dalam kegiatan seperti ini. Melalui kerja kelompok, presentasi, dan Focus Group Discussion, para peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang perkembangan terbaru yang terjadi di dunia internasional, terkait masalah pendidikan, sosial, budaya, maupun teknologi. “
Konferensi internasional juga menjadi platform untuk memahami berbagai budaya dan perspektif yang berbeda. Ini memberikan pengalaman unik dalam menghargai dan memahami keanekaragaman budaya serta sudut pandang yang beragam. Komunikasi antarbudaya menjadi bekal penting bagi mahasiswa karena dapat membantu menghindari stereotype dan prejudice dan dengan sendirinya akan melatih mahasiswa untuk selalu menghargai perbedaan, ” jelas Baby Poernomo, S.S, M.A, Kepala International Office dan Pusat Bahasa Institut STIAMI. (BP /IO-SLC/V/2026).
Kontak Media:
Public Relations Institut STIAMI
Email: [email protected]
Telepon : 0851-2104-2427